Rabu, 15 November 2017

deskeripsi

Deskripsi adalah satu kaidah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri

dogeng rakyat

dogeng rayat
Seorang pahlawan adalah gelar yang memberikan kepada warga negara atau seseorang yang berjuang melawan penjajah pada liwayahnya, Yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negaranya. Atau yang semasa hidupnya telah melakukan tindakan kepahlawanan dan menghsilkan prestasi dan karya yang luar biasa untuk pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara tersebut. Nah saya kali ini hanya bisa mengenang kemerdekaan ini dalam bentuk puisi untuk mengenang Jasa-jasa pahlawan. Berikut di bawah ini saya share kumpulan puisi pahlawan dan perjuangan buat anda sekalian.



Di Balik Seruan Pahlawan

Kabut...
Dalam kenangan pergolakan pertiwi
Mendung...
Bertandakah hujan deras
Membanjiri rasa yang haus kemerdekaan
Dia yang semua yang ada menunggu keputusan Sakral

Serbu...
Merdeka atau mati Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Engkau teruskan Menyebut Ayat-ayat suci
Engkau teriakkan semangat juang demi negri
Engkau relakan terkasih menahan tepaan belati
Untuk ibu pertiwi

Kini kau lihat...
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindunganya selalu di hatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia Abadi
(Puisi Karya Zshara Aurora)

Untukmu Pahlawan Indonesiaku

Demi negri...
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa...
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan

Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri

Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat...
Runtuhkan tebing semangat juangmu

Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan
  

narasi

Teks narasi merupakan suatu karangan yang menceritakan atau menjelaskan secara detail sebuah kejadian atau peristiwa berdasarkan urutan waktu. Peristiwa dalam sebuah teks narasi sendiri bisa benar-benar terjadi maupun hanya sebuah imajinasi.
Udah mulai ada bayangankan mengenai pengertian teks narasi ? Jadi teks narasi tidak hanya berasal dari kejadian nyata saja, akan tetapi bisa diambil dari cerita yang bersifat fiksi atau khayalan seperti pada roman, novel, cerpen, drama, dan biografi.

cerama

Unsur, struktur, dan kaidah kebahasaan dalam ceramah – apa saja bagian – bagian dari teks ceramah? Ceramah adalah penyampaian suatu informasi di depan khalayak umum (masyarakat). Ceramah sering kali disamakan dengan pidato. Oleh karena itu, saya memberikan materi tentang ceramah kepada pembaca agar tidak ada kekeliruan.

Lihat juga : Pengertian, Jenis, Tujuan, Metode Pidato
Dalam berceramah tentu adalah struktur – struktur yang harus diketahui agar khalayak umum dapat membuat materi ceramah yang baik dan benar agar para pendengar nyaman mendengarkannya.
Apa saja struktur – struktur tersebut? 
#

Pembuka
Bagian ini merupakan awal dari teks ceramah. Seperti teks – teks yang lain terutama teks eksposisi, pembuka mengenalkan isu, masalah, ataupun pandangan pembicara tentang sesuatu dalam topik yang akan dibahas. Bagian pembuka ini dapat disebut juga dengan tesis. 
Isi
Bagian ini merupakan rangkaian argumen atau pendapat yang disampaikan oleh pembicara mengenai topik yang diangkat menjadi bahan materi ceramah. Bagian ini saling berkaitan dengan bagian sebelumnya yaitu tesis. Pada bagian ini argumen - argumen pembicara diperkuat dengan fakta yang ada.
Penutup
Bisa juga disebut penengasan ulang kembali. Bagian ini berisi simpulan atau rangkuman – rangkuman sebagai hasil penalaran dari pernyataan – pernyataan sebelumnya.
Di dalam struktur tentu terdapat unsur – unsur yang terdapat pada setiap bagiannya. Berikut unsur – unsur dari teks ceramah.
# Unsur teks ceramah

-          Teks berisi pesan yang bertujuan untuk memberi nasehat kepada pendengar.
-          Bersifat menghibur, menginformasikan,dan membujuk.
-          Isinya dapat dimanfaatkan atau diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.
Selesai saya membahas truktur dan apa isi dari setiap struktur. Karena setiap teks memiliki karakteristiknya masing – masing, sekarang saya akan membahas kaidah kebahasaannya.

Lihat juga : Persamaan dan Perbedaan Teks Pidato, Ceramah, dan Khutbah
# Kaidah kebahasaaan teks ceramah
-          Menggunakan kata ganti orang pertama. Contohnya saya, aku, kami (jika penceramah mengatasnamakan kelompok).
-          Menggunakan kata ganti orang kedua jamak. Contohnya saudara – saudara, hadirin, dan lain – lain.
-          Menggunakan kata – kata ajakan ataua persuasif. Contohnya sebaiknya, hendaklah, harus, perlu, dan lain – lain.
-          Menggunakan kata mental. Contohnya mengagumkan,  memprihatinkan, menyimpulkan, dan lain – lain.
-          Menggunakan kata – kata sebab akibat yang menghubungkan pendapat (argumen) satu dengan yang lainnya. Contohnya sehingga, maka, jika, dengan demikian, oleh karena itu, dan lain – lain.
-          Menggunakan kata teknis. Atau peristilahan yang yang terkait dengan topik yang sedang dibahas. Contohnya etika berbahasa, tata krama, dan lain – lain.
-          Menggunakan kata – kata yang menyatakan hubungan temporal ataupun perbandingan atau pertentangan. Contohnya kemudian, sebelum itu, berbeda halnya, dan lain – lain.

drama

Selasa, 14 November 2017







1.1    Latar Belakang

Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks kesastraan yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya dan pada karya yang muncul kemudian. Tujuan kajian intertekstual itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya sastra. Penulisan dan pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga memberi makna secara lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan (Nurgiyantoro, 1995:50).

Pada kenyataanya karya sastra tidak hadir atau dicipta dalam kekosongan budaya, namun karya sastra hadir atau dicipta karena adanya seorang pengarang yang menuliskannya. Karya sastra dicipta pengarangnya untuk menanggapi gejala-gejala yang terjadi pada masyarakat sekelilingnya, bahkan seorang pengarang tidak terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran atau pandangan dunia pada zamannya atau sebelumnya. Semua itu tercantum dalam karyanya. Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan atau pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum atau sesudahnya. (Pradopo, 2003 : 167). Dengan demikian kaitan karya sastra terdahulu dengan  masa kini tidak dapat dipisahkan dengan kajian intertektual pada karya sastra. Prinsip Intertekstual menunjukkan bahwa karya sastra baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan karya sastra lain, baik dalam hal persamaannya maupun pertentangannya. Kajian sastra perbandingan pada akhirnya harus masuk ke dalam wilayah hipogram. Berdasarkan latar belakang tersebut kami akan membahas tentang kajian Intertekstual dalam karya sastra.
1. Apa yang dimaksud dengan pendekatam intertekstual?
2.  Bagaimanakah Analisis Intertekstual dalam puisi?








Intertekstual adalah sebuah pendekatan untuk memahami sebuah Teks sebagai sisipan dari teks-teks lainnya. Intertekstual juga dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa lampau dengan teks masa kini. Suatu teks dipahami tidak berdiri sendiri. Ada dua alasan yang mendasari hal ini. Pertama, pengarang sebuah teks adalah pembaca sebelum ia penulis teks-teks. Teks yang ditulis tentu dipengaruhi oleh teks-teks lain yang dibaca oleh sang pengarang. Dalam proses penulisan teks, pengarang menggunakan berbagai rujukan atau kutipan dari teks-teks yang telah ia baca. Kedua, sebuah teks tersedia melalui proses pencarian materi yang hendak ditulis. Dalam proses tersebut, ada pertentangan maupun penerimaan akan materi-materi yang ditemukan dalam teks-teks yang dibaca. Teks-teks yang mempengaruhi bisa jadi teks-teks yang ada sebelum teks ditulis atau teks-teks yang berada pada zaman teks ditulis. Pengaruh yang diberikan teks-teks lain bisa dalam bentuk gagasan, ucapan-ucapan lisan, gaya bahasa, dan lain-lain. Suatu teks disusun dari kutipan-kutipan atau sumber-sumber teks lain. Teks yang dimaksud disini bukan hanya teks tertulis tetapi juga teks yang tidak tertulis atau lisan seperti adat istiadat, kebudayaan, dan agama.

Pradopo (1993: 167), mengemukakan bahwa hakikat sebuah sajak baru bermakna ketika sajak itu berkaitan dengan sajak yang lain. Hubungan yang terjadi, bisa positif (persamaan) maupun negative (bertentangan). Sebuah sajak karena itu dapat menjadi latarbelakang munculnya sajak yang lain, yang sering disebut dengan hipogram. Istilah intertekstualitas seringkali juga disebut dengan transformasi kesusasteraan).  Begitulah A. Teeuw menyebutnya untuk ‘menandai’ karya sastra saduran. Maka sesungguhnya, pemahaman demikian _makna hubungan intertekstualitasnya—akan mengantarkan pembaca untuk lebih intensif dalam memahami karya sastra.
Chairil Anwar dapat disebut sebagai penyair yang dimenangkan oleh sejarah, di mana keberadaannya dalam dunia kesusasteraan lebih banyak ditopang oleh faktor kebetulan. Di saat itu, kebetulan sejarah Indonesia tengah bergolak, dan sedang menyongsong fajar kemerdekaan. Kebetulan Chairil Anwar hidup di masa itu, kebetulan iklim sastra belum sesubur sekarang, kebetulan Chairil Anwar fasih berbahasa Belanda sebagaimana kebanyakan orang pada saat itu. Akan tetapi, bukan suatu kebetulan bahwa dengan kefasihan Chairil Anwar menjadi tahu banyak tentang kesusasteraan dunia, dan “mencuri” beberapa sajak karya yang dikaguminya. Puisi-puisi Chairil Anwar ada beberapa yang dalam bayang-bayang Amir Hamzah. Beberapa sajak Chairil Anwar memiliki kemiripan suasana, setting, dengan ide-ide awal Amir Hamzah. Berikut ini kasus intertekstual antara puisi sajak “Kusangka” karya Amir Hamzah dengan“Penerimaan” Chairil Anwar.

KUSANGKA (Amir Hamzah)

Kusangka cemburu kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri.....
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari.....
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak.....
Melati yang ada
Pandai tergeletak.....
Mimpiku seroja terapung di paya
Teratai putih awan angkasa.....
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kaca piring bunga renungan.....

Igauanku subuh, impianku malam
Kuntum cempaka putih bersih.....
Kulihat kumbang keliling berlagu
Kelopakmu terbuka menerima cembu.

Kusangka hauri bertudung lingkup
Bulumata menyangga panah Asmara
Rupanya merpati jangan dipetik
Kalau dipetik menguku segera.
(Buah Rindu, 1959:19)





PENERIMAAN (Chairil anwar)

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Djangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
(Deru Campur Debu, 1959: 36)




Untuk mendapat makna penuh sebuah sajak, tidak boleh melupakan hubungan sejarahnya dengan keseluruhan sajak-sajak peyair sendiri, sajak-sajak sesamanya, maupun dengan sajak sastra zaman sebelumnya( Teeuw, 1983: 65).
Sajak Chairil Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pendangan realistiknya. Sajak “Kusangaka” menunjukkan kesejajaran gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetaforkan sebagai bidadari (hauri) dan merpati.
Dari keenam bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda lain/ suda tidak perawan lagi (‘Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka menerima cembu’). Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku remuk. Wasangka dan was-was silih berganti(bait 1). Dengan demikian, si aku tidak mau bersama gadis yang sudahtidak murni lagi, sebab akan terkena kuku “merpati” itu (bait 7).
Gadis yang masih murni (disangka murni) diumpamakan cempaka kembang(bait 1), baharu kembang belum terkena sinar matahari(bait 2), cempaka harum(bait 3), seroja terapung di paya putih seperti awan(bait 4), dan seperti bidadari (hauri) bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmara (bait 6).
Gambaran tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan basi si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya. Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah diseri(bait 1), teratai patah kelopak dihinggapi kumbang berpuluh kali (bait 2), merpati yang pandai bergelak(bait 3), mawar yang mengandung lumpur(bait 4), dan merpati yang mengaku segera (bait 6).
Jadi, yang menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural.
Bila diperhatikan, si penyair kelihatan ingin berpanjang-panjang menguraikan gagasan yang sesungguhnya sudah tercangkup dalam bait pertama dan keenam. Sikap yang seperti ini sesungguhnya sikap romantik yang inin bermewah-mewah secara artistik (dandy-isme) menyebabkan tidak padat.
Sebaliknya Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam mendiskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan realistik, si aku mau menerima kembali wanita(kekasihnya, istrinya) yang barang kali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal mau kembali kepada si aku tanpa ada rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya wanita yang dicintainya itu.
Si aku mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak murni lagi, sudah seperti bunga yang sarinya terbagi, yaitu sudah dihinggapi kumbang lain. Wanita itu jika ingin mau diterima kembali harus berani bertemu dengan si aku dan jangan malu untuk menemui si aku. Digambarkan “Djangan tunduk! Tantang aku dengan berani”. Si aku pun tetap menerima dengan sepenuh hati walaupun wanita itu sudah tidak perawan lagi.
Chairil Anwar mengekspresikan gagasannya secara padat. Untuk memberikan tekanan inti persoalan, bait pertama diulang dengan bait kelima, tetapi dengan variasi yang menyatakan kemutlakan individualitas si aku. Dengan hal seperti itu, secara keseluruhan ekspresi menjadi padat, tak ada yang berlebihan.
Dalam penggunaan bahasa sesungguhnya Chairil Anwar juga masih sedikit romantik. Hal ini mengingatkan gaya sajak yang menjadi hipogramnya. Ia membandingkan wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni digambarkan sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi (bak kembang sari yang sudah terbagi). Ini hampir sama dengan perumpamaan yang dilakukan Amir Hamzah: “Rupanya teratai patah kelopak/dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga”. Sedangkan Chairil Anwar : ”Kutau kau bukan yang dulu lagi/ bak kembang sari sudah terbagi”. Namun, Chairil Anwar tetap menggunakan bahasa keseharian dalam pengungkapan dan menggunakan gaya eksresif yang padat. Hal ini sesuai dengan sikapnya yang realistis.

2.3 Analisis Hubungan Intertekstual Padamu Jua dengan Doa

Berdasarkan prinsip intertekstual sebagaimana yang dikemukakan oleh Riffaterre (1987), sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain, baik dalam persamaannya maupun  dalam perbedaannya. Dalam artian sajak baru bermakna secara sepenuhnya setelah diketahui hubungannya dengan sajak lain yang menjadi latar penciptaannya. Di samping itu, suasana sajak akan menjadi lebih terang, kiasan-kiasannya menjadi lebih dapat dipahami. Sajak yang menjadi latar penciptaan sebuah sajak disebut hypogram (Riffaterre, 1978). Sementara Culler (1977) mengemukakan bahwa tiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan dan trasformasi teks-teks lain. Maksudnya, teks-teks itu mengambil hal-hal yang bagus dari teks lain berdasarkan tanggapan-tanggapannya dan diolahnya kembali dalam karyanya atau teks yang ditulis oleh sastrawan kemudian itu.
          Dalam kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstual antara suatu karya dengan karya lain, baik antara karya sezamannya maupun zaman sebelumnya banyak terjadi. Misalnya saja beberapa sajak Chairil Anwar mempunyai hubungan intertekstual dengan sajak-sajak Amir Hamzah. Hubungan intetekstual itu menunjukkan adanya persamaan dan pertentangannya dalam hal konsep estetik dan pandangan hidup yang berlawana.
         Untuk lebih jelasnya analisis hubungan intertekstual Padamu Jua dengan Aku dapat dilihat berikut ini.
Amir Hamzah
            Padamu Jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hati-bukan kawanku...
            (Nyanyi Sunyi, 1959).

Chairil Anwar

Doa
 kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam malam

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintu-Mu mengetuk
aku tidak bisa berpaling
            (Deru Campur Debu, 1959).

Secara intertekstual ”Doa” Chairil Anwar menunjukkan adanya persamaan dan pertalian dengan sajak ”Padamu Jua”. Ada gagasan dan ungkapan Chairil Anwar yang dapat diruntut kembali dalam sajak Amir Hamzah. Begitu juga ide, meskipun dalam pengolahannya ada perbedaan yang menyebabkan tiap-tiap sajak menunjukkan kepribadiannya masing-masing dalam menanggapi masalah yang dihadapi.
            ”Padamu Jua” si aku yang cinta dunianya habis kikis dengan pasti kembali kepada-Mu, Tuhan, meskipun pada awalnya kecewa karena ia merasa dipermainkan oleh Engkau. Namun, akhirnya ia tak mau pergi lagi karena Engkau sebagai dara di balik tirai, menanti si aku seorang diri dengan setia.
            ”Doa”, si aku yang terasing dalam kebingungannya meskipun pada mulanya termangu, toh akhirnya ia datang juga kepada Tuhan karena Tuhan itu penuh seluruh (Maha Rahman dan Maha Rahim). Tak ada tempat lain untuk mengadu keremukan bentuknya (wujud hidupnya) selain Dia. Maka, setelah aku mengetuk pintu kerahmanan dan kerahimnya, si aku tak bisa berpaling lagi.
            Amir Hamzah menggambarkan Tuhan (Engkau) sebagai kendil (lilin) kemerlap. Ini ditrasformasikan Chairil dalam ”Doa”, sifat Tuhan sebagai kerdip lilin di kelam sunyi.
            Si aku dalam sajak Amir Hamzah ragu-ragu karena tak dapat menangkap wujud Engkau: Aku manusia / Rindu rasa / Rindu rupa // Di mana Engkau / Rupa tiada / Suara sayup / Hanya kata merangkai hati //. Bahkan si aku merasa diperhatikan: Engkau cemburu / Engkau ganas / Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap dengan lemas //.  Hal ini ditransformasikan Chairil: Tuhanku / Dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu // Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh //. Penderitaan si aku dalam sajak Amir Hamzah (bait ke-3, 4, 5) ditransformasikan Chairil Anwar: Tuhanku / Aku hilang bentuk / remuk / ... / aku mengembara di negeri asing.
            Meskipun demikian, si aku Amir Hamzah kembali juga kepada Engkau, kekasihnya: Nanar aku, gila sasar / Sayang berulang padamu juga / Engkau pelik menarik ingin / Serupa dara di balik tirai // Kasihmu sunyi / Menunggu seorang diri /. Ini ditrasformasikan Chairil dalam ”Doa”: Tuhanku / aku mengembara di negeri asing // Tuhanku / di pintu-Mu aku mengetuk / aku tidak bisa berpaling.
            Meskipun ada persamaan ide antara kedua sajak tersebut, namun pelaksanaannya, yaitu mengekspresikannya, berbeda, menyebabkan hasilnya pun berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan tanggapan terhadap Tuhan (wujud Tuhan).
            Amir Hamzah menanggapi wujud Tuhan sebagai kekasih, Tuhan dianthropomorfkan, diwujudkan sebagai manusia: kekasih, gadis. Dengan demikian, kiasan-kiasannya bersifat personifikasi dan romantis: Pulang kembali aku padamu / Seperti dahulu / .../ Kaulah kandil kemerlap / ... / Melambai pulang perlahan / Sabar, setia selalu // ... / Engkau pelik menarik ingin / Serupa dara di balik tirai // Kasihmu sunyi / Menunggu seorang diri.
            Amir Hamzah ingin menangkap wujud Tuhan seperti hal yang berbentuk wadag: Satu kekasihku / Aku manusia / Rindu rasa / Rindu rupa//. Yang diinginkan Amir Hamzah pertemuan dengan Tuhan seperti halnya Nabi Musa: Hanya satu kutunggu hasrat / serupa Musa di puncak Tursina (”Hanya Satu”). Tuhan digambarkan sebagai gadis yang pencemburu dan ganas (di sini juga digambarkan  sebagai binatang  bas): Engkau cemburu / Engkau ganas / Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap dengan lepas.
            Hal tersebur lain dari yang digambarkan wujud Tuhan menurut konsep Chairl Anwar. Antara aku dan engkau itu ada jarak. Kekuasaan Tuhan itu mutlak, ada hamba dan Tuhan. Maka Chairil Anwar tak memberinya bentuk manusia, melaikan hanya kekuasaan-Nya yang terasa. Tuhan memancarkan cahaya yang panas, meskipun juga untuk menerangi hati manusia: caya-Mu panas suci / tinggal kerdip lilin di kelam sunyi //. Manusia tak dapat berbuat laian kecualai hanya bersrah diri dan mengadukan nasibnya sebab hanya Dia tumpuan keluh dan tangis manusia: Tuhanku / aku hilang bentuk / remuk // Tuhanku / aku mengembara di negeri asing.
            Dalam gaya ekspresi, Chairil Anwar mempergunakan haya semacam imagisme, yaitu gaya yang mengemukakan pengertian dengan citra-cita, gambaran-gambaran, atau imaji-imaji: Tuhanku / aku hilang bentuk / remuk /... / aku mengembara di negeri asing //. Maka, kata-kata yang kalimatnya ambigu. Amir Hamzah mempergunakan citra-citra juga, tetapi tidak untuk mengemukakan pengertian, melainkan untuk mengkonkretkan tanggapan. Kaulah Kandil kemerlap / Pelita jendela di malam gelap / Melambai pulang perlahan / Sabar, setia selalu / ... / Engkau cemburu / Engkau ganas / Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap dengan lepas.// Di sini kata-kata dan kalimatnya tidak ambigu, bahkan mendekati kepolosan.


Hubungan Intertektual sajak orang kepanasan dengan sajak suara

SAJAK ORANG KEPANASAN
(W.S. Rendra)

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar dijalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang : TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu

Suara Merdeka, 






Tokoh kami dalam puisi Sajak Orang Kepanasan adalah seseorang yang tertindas dan miskin yang hanya makan akar. Makan akar disini dimaksudkan dengan hanya makan umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar dan umbi-umbian yang lain. Hidup berhimpitan, kucel, sumpek, terlantar dijalan, kebanjiran, dibungkam, diancam, tidak boleh memilih, hanya bersandal, harus sopan dan hanyalah arus kali.
Dalam puisi Sajak Orang Kepanasan dijelaskan bahwa tokoh kamu merupakan tokoh yang memiliki kekuasaan dan kaya. Ia menumpuk terigu digudang, ruangnya berlebihan, gemerlapan, mengunci pintu, memiliki semua keteduhan, bisa berpesta dikapal pesiar, bisa dengan mudah nyerocos bicara, memaksakan kekuasaan, bebas berencana dan bebas memakai senapan, mempunyai penjara dan tokoh kamu bagaikan batu tanpa hati.
Puisi Sajak Orang Kepanasan ini didalamnya mengandung ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial antar tokoh kami dan tokah kamu adalah bahwa tokoh kami adalah tokoh yang miskin sedangkan tokoh kamu adalah seorang tokoh yang kaya raya, tokoh kamu memiliki kekuasaan sedangkan tokoh kami tertindas akan kekuasaan yang dimiliki oleh tokoh kamu. Dapat pula diartikan bahwa tokoh kamu adalah seorang penjajah yang kejam dan tokoh kami adalah rakyat Indonesia yang mengalami kesengsaraan akibat penjajahan yang dilakukan oleh tokoh kamu.
Dalam puisi Sajak Orang Kepanasan ini, tokoh kami mengungkapkan penolakan atas ketertindasan yang dialaminya. Coba perhatikan bait puisi berikut ini

Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu





Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Disini terlihat bahwa tokoh kami sungguh berani menolak apa yang dilakukan oleh tokoh kamu dengan tegas berkata TIDAK kepadamu dan TIDAK dan TIDAK kepadamu. Dan sebelum adanya penolakan tersebut W.S Rendra dengan piawai membangun pukulan demi pukulan untuk menguatkan benturan atau kontradiksi antara tokoh kami dan tokoh kamu.


SAJAK SUARA
(Wiji Tukul)
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamku
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
Terdapat keterkaitan antara puisi Sajak Orang Kepanasan karya W.S Rendra dengan realita kehidupan saat ini. Dalam puisi ini dijelaskan adanya seseorang yang memiliki kekuasaan dan dengan semena-mena melakukan penindasan kepada orang yang miskin dan tak berdaya, rakyat tidak diberi kesempatan untuk menyerukan pendapat dan kehendak masing-masing. Kebebasan rakyat direnggut. Sama halnya dengan puisi sajak suara Widji Tukul kehidupan saat ini, banyak terdapat penguasa-penguasa yang memegang kuasa dalam negara tetapi ia malah menyalahgunakan kekuasaan atau jabatannya dengan tidak benar, menindas dan menyengsarakan rakyat miskin, kebebasan rakyat terenggut, rakyat tidak memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya, problema kehidupan yang tidak selayaknya dirasakan oleh rakyat miskin.









Pendekatan Intertekstual adalah adalah teknik penelitian sastra yang dilakukan dengan cara membandingkan, mensejajarkan dan mengongranskan antar karya. Intertekstual juga dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa lampau dengan teks masa kini.  Intertekstual dalam puisi dapat mencakup persamaan maupun pertentangannya. Untuk mendalami hubungan antar teks, penting dibicarkan karya sastra tersebut dalam kaitannya dengan karya sezaman, sebelum, dan sesudahnya. Hal ini untuk mengetahui bagaimana hubungan atau kaitan antar teks yang mungkin terjadi.
Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami masih dalam tahap pembelajaran.




Amir Hamzah. 1959a. Buah Rindu. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Chairil Anwar. 1959. Deru Campur Debu. Jakarta: Pembangunan.
Rachmat Djoko Pradopo. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rachmat Djoko Pradopo. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2009