1.1
Latar Belakang
Kajian intertekstual
dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks kesastraan yang diduga
mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Secara lebih khusus dapat dikatakan
bahwa kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada
karya-karya sebelumnya dan pada karya yang muncul kemudian. Tujuan kajian
intertekstual
itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya
sastra. Penulisan dan pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur
kesejarahannya sehingga memberi makna secara lebih lengkap jika dikaitkan
dengan unsur kesejarahan (Nurgiyantoro, 1995:50).
Pada kenyataanya karya sastra tidak hadir atau dicipta dalam
kekosongan budaya, namun karya sastra hadir atau dicipta karena adanya seorang
pengarang yang menuliskannya. Karya sastra dicipta pengarangnya untuk
menanggapi gejala-gejala yang terjadi pada masyarakat sekelilingnya, bahkan
seorang pengarang tidak terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran atau
pandangan dunia pada zamannya atau sebelumnya. Semua itu tercantum dalam
karyanya. Sebuah karya sastra, baik
puisi maupun prosa mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang
mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan
atau pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra
itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum atau sesudahnya. (Pradopo,
2003 : 167). Dengan demikian
kaitan karya sastra terdahulu dengan
masa kini tidak dapat dipisahkan dengan kajian intertektual pada karya
sastra. Prinsip Intertekstual menunjukkan bahwa karya sastra baru bermakna
penuh dalam hubungannya dengan karya sastra lain, baik dalam hal persamaannya
maupun pertentangannya. Kajian sastra perbandingan pada akhirnya harus masuk ke
dalam wilayah hipogram. Berdasarkan latar belakang tersebut kami akan membahas
tentang kajian Intertekstual dalam karya sastra.
1. Apa yang
dimaksud dengan pendekatam intertekstual?
2. Bagaimanakah Analisis Intertekstual dalam puisi?
Intertekstual adalah sebuah
pendekatan untuk memahami sebuah Teks sebagai sisipan dari teks-teks lainnya.
Intertekstual juga dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa
lampau dengan teks masa kini. Suatu teks dipahami tidak berdiri sendiri. Ada
dua alasan yang mendasari hal ini. Pertama, pengarang sebuah teks adalah
pembaca sebelum ia penulis teks-teks. Teks yang ditulis tentu dipengaruhi oleh
teks-teks lain yang dibaca oleh sang pengarang. Dalam proses penulisan teks,
pengarang menggunakan berbagai rujukan atau kutipan dari teks-teks yang telah
ia baca. Kedua, sebuah teks tersedia melalui proses pencarian materi yang
hendak ditulis. Dalam proses tersebut, ada pertentangan maupun penerimaan akan
materi-materi yang ditemukan dalam teks-teks yang dibaca. Teks-teks yang
mempengaruhi bisa jadi teks-teks yang ada sebelum teks ditulis atau teks-teks
yang berada pada zaman teks ditulis. Pengaruh yang diberikan teks-teks lain
bisa dalam bentuk gagasan, ucapan-ucapan lisan, gaya bahasa, dan lain-lain. Suatu
teks disusun dari kutipan-kutipan atau sumber-sumber teks lain. Teks yang
dimaksud disini bukan hanya teks tertulis tetapi juga teks yang tidak tertulis
atau lisan seperti adat istiadat, kebudayaan, dan agama.
Pradopo (1993: 167), mengemukakan
bahwa hakikat sebuah sajak baru bermakna ketika sajak itu berkaitan dengan
sajak yang lain. Hubungan yang terjadi, bisa positif (persamaan) maupun
negative (bertentangan). Sebuah sajak karena itu dapat menjadi latarbelakang
munculnya sajak yang lain, yang sering disebut dengan hipogram. Istilah
intertekstualitas seringkali juga disebut dengan transformasi kesusasteraan). Begitulah A. Teeuw menyebutnya untuk
‘menandai’ karya sastra saduran. Maka sesungguhnya, pemahaman demikian _makna
hubungan intertekstualitasnya—akan mengantarkan pembaca untuk lebih intensif
dalam memahami karya sastra.
Chairil Anwar dapat
disebut sebagai penyair yang dimenangkan oleh sejarah, di mana keberadaannya
dalam dunia kesusasteraan lebih banyak ditopang oleh faktor kebetulan. Di saat
itu, kebetulan sejarah Indonesia tengah bergolak, dan sedang menyongsong fajar
kemerdekaan. Kebetulan Chairil Anwar hidup di masa itu, kebetulan iklim sastra
belum sesubur sekarang, kebetulan Chairil Anwar fasih berbahasa Belanda
sebagaimana kebanyakan orang pada saat itu. Akan tetapi, bukan suatu kebetulan
bahwa dengan kefasihan Chairil Anwar menjadi tahu banyak tentang kesusasteraan
dunia, dan “mencuri” beberapa sajak karya yang dikaguminya. Puisi-puisi Chairil
Anwar ada beberapa yang dalam bayang-bayang Amir Hamzah. Beberapa sajak Chairil
Anwar memiliki kemiripan suasana, setting, dengan ide-ide awal Amir Hamzah.
Berikut ini kasus intertekstual antara puisi sajak “Kusangka” karya Amir Hamzah
dengan“Penerimaan” Chairil Anwar.
KUSANGKA (Amir Hamzah)
Kusangka
cemburu kembang setangkai
Rupanya melur
telah diseri.....
Hatiku remuk
mengenangkan ini
Wasangka dan
was-was silih berganti.
Kuharap cempaka
baharu kembang
Belum tahu
sinar matahari.....
Rupanya teratai
patah kelopak
Dihinggapi
kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan
cempaka
Harum mula
terserak.....
Melati yang ada
Pandai
tergeletak.....
Mimpiku seroja
terapung di paya
Teratai putih
awan angkasa.....
Rupanya mawar
mengandung lumpur
Kaca piring
bunga renungan.....
Igauanku subuh,
impianku malam
Kuntum cempaka
putih bersih.....
Kulihat kumbang
keliling berlagu
Kelopakmu
terbuka menerima cembu.
Kusangka hauri
bertudung lingkup
Bulumata
menyangga panah Asmara
Rupanya merpati
jangan dipetik
Kalau dipetik
menguku segera.
(Buah Rindu, 1959:19)
PENERIMAAN (Chairil anwar)
Kalau kau mau
kuterima kau kembali
Dengan sepenuh
hati
Aku masih tetap
sendiri
Kutahu kau
bukan yang dulu lagi
Bak kembang
sari sudah terbagi
Djangan tunduk!
Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau
kuterima kau kembali
Untukku sendiri
tapi
Sedang dengan
cermin aku enggan berbagi
(Deru Campur Debu, 1959: 36)
Untuk mendapat
makna penuh sebuah sajak, tidak boleh melupakan hubungan sejarahnya dengan
keseluruhan sajak-sajak peyair sendiri, sajak-sajak sesamanya, maupun dengan
sajak sastra zaman sebelumnya( Teeuw, 1983: 65).
Sajak Chairil
Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih
meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang
dengan pendangan realistiknya. Sajak “Kusangaka” menunjukkan kesejajaran
gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan
ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga.
Pada bait terakhir dimetaforkan sebagai bidadari (hauri) dan merpati.
Dari keenam
bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni,
tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda
lain/ suda tidak perawan lagi (‘Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi
kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka
menerima cembu’). Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku
remuk. Wasangka dan was-was silih berganti(bait 1). Dengan demikian, si aku
tidak mau bersama gadis yang sudahtidak murni lagi, sebab akan terkena kuku
“merpati” itu (bait 7).
Gadis yang
masih murni (disangka murni) diumpamakan cempaka kembang(bait 1), baharu
kembang belum terkena sinar matahari(bait 2), cempaka harum(bait 3), seroja
terapung di paya putih seperti awan(bait 4), dan seperti bidadari (hauri)
bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmara (bait 6).
Gambaran
tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan
basi si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya.
Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah
diseri(bait 1), teratai patah kelopak dihinggapi kumbang berpuluh kali (bait
2), merpati yang pandai bergelak(bait 3), mawar yang mengandung lumpur(bait 4),
dan merpati yang mengaku segera (bait 6).
Jadi, yang
menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa
gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si
aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak
sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang
indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural.
Bila
diperhatikan, si penyair kelihatan ingin berpanjang-panjang menguraikan gagasan
yang sesungguhnya sudah tercangkup dalam bait pertama dan keenam. Sikap yang
seperti ini sesungguhnya sikap romantik yang inin bermewah-mewah secara
artistik (dandy-isme) menyebabkan tidak padat.
Sebaliknya
Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam
mendiskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat
berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan
realistik, si aku mau menerima kembali wanita(kekasihnya, istrinya) yang barang
kali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal
mau kembali kepada si aku tanpa ada rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak
mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya
wanita yang dicintainya itu.
Si aku
mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak murni lagi, sudah seperti
bunga yang sarinya terbagi, yaitu sudah dihinggapi kumbang lain. Wanita itu
jika ingin mau diterima kembali harus berani bertemu dengan si aku dan jangan
malu untuk menemui si aku. Digambarkan “Djangan tunduk! Tantang aku dengan
berani”. Si aku pun tetap menerima dengan sepenuh hati walaupun wanita itu
sudah tidak perawan lagi.
Chairil Anwar
mengekspresikan gagasannya secara padat. Untuk memberikan tekanan inti
persoalan, bait pertama diulang dengan bait kelima, tetapi dengan variasi yang
menyatakan kemutlakan individualitas si aku. Dengan hal seperti itu, secara
keseluruhan ekspresi menjadi padat, tak ada yang berlebihan.
Dalam
penggunaan bahasa sesungguhnya Chairil Anwar juga masih sedikit romantik. Hal
ini mengingatkan gaya sajak yang menjadi hipogramnya. Ia membandingkan wanita
dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni digambarkan sebagai bunga
yang sarinya sudah terbagi (bak kembang sari yang sudah terbagi). Ini hampir
sama dengan perumpamaan yang dilakukan Amir Hamzah: “Rupanya teratai patah
kelopak/dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga”.
Sedangkan Chairil Anwar : ”Kutau kau bukan yang dulu lagi/ bak kembang sari
sudah terbagi”. Namun, Chairil Anwar tetap menggunakan bahasa keseharian dalam
pengungkapan dan menggunakan gaya eksresif yang padat. Hal ini sesuai dengan
sikapnya yang realistis.
2.3 Analisis Hubungan Intertekstual Padamu Jua dengan Doa
Berdasarkan
prinsip intertekstual sebagaimana yang dikemukakan oleh Riffaterre (1987),
sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain, baik dalam
persamaannya maupun dalam perbedaannya.
Dalam artian sajak baru bermakna secara sepenuhnya setelah diketahui
hubungannya dengan sajak lain yang menjadi latar penciptaannya. Di samping itu,
suasana sajak akan menjadi lebih terang, kiasan-kiasannya menjadi lebih dapat
dipahami. Sajak yang menjadi latar penciptaan sebuah sajak disebut hypogram (Riffaterre, 1978). Sementara
Culler (1977) mengemukakan bahwa tiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan
dan merupakan penyerapan dan trasformasi teks-teks lain. Maksudnya, teks-teks
itu mengambil hal-hal yang bagus dari teks lain berdasarkan
tanggapan-tanggapannya dan diolahnya kembali dalam karyanya atau teks yang
ditulis oleh sastrawan kemudian itu.
Dalam kesusastraan Indonesia,
hubungan intertekstual antara suatu karya dengan karya lain, baik antara karya
sezamannya maupun zaman sebelumnya banyak terjadi. Misalnya saja beberapa sajak
Chairil Anwar mempunyai hubungan intertekstual dengan sajak-sajak Amir Hamzah.
Hubungan intetekstual itu menunjukkan adanya persamaan dan pertentangannya
dalam hal konsep estetik dan pandangan hidup yang berlawana.
Untuk lebih jelasnya analisis hubungan
intertekstual Padamu Jua dengan Aku dapat dilihat berikut ini.
Amir Hamzah
Padamu
Jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Mati hati-bukan kawanku...
(Nyanyi Sunyi,
1959).
Chairil Anwar
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam
malam
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu mengetuk
aku tidak bisa berpaling
(Deru Campur Debu, 1959).
Secara
intertekstual ”Doa” Chairil Anwar menunjukkan adanya persamaan dan pertalian
dengan sajak ”Padamu Jua”. Ada gagasan dan ungkapan Chairil Anwar yang dapat
diruntut kembali dalam sajak Amir Hamzah. Begitu juga ide, meskipun dalam
pengolahannya ada perbedaan yang menyebabkan tiap-tiap sajak menunjukkan
kepribadiannya masing-masing dalam menanggapi masalah yang dihadapi.
”Padamu Jua” si aku yang cinta
dunianya habis kikis dengan pasti kembali kepada-Mu, Tuhan, meskipun pada
awalnya kecewa karena ia merasa dipermainkan oleh Engkau. Namun, akhirnya ia
tak mau pergi lagi karena Engkau sebagai dara di balik tirai, menanti si aku
seorang diri dengan setia.
”Doa”, si aku yang terasing dalam
kebingungannya meskipun pada mulanya termangu, toh akhirnya ia datang juga
kepada Tuhan karena Tuhan itu penuh seluruh (Maha Rahman dan Maha Rahim). Tak ada tempat lain untuk mengadu
keremukan bentuknya (wujud hidupnya) selain Dia. Maka, setelah aku mengetuk
pintu kerahmanan dan kerahimnya, si aku tak bisa berpaling lagi.
Amir Hamzah menggambarkan Tuhan
(Engkau) sebagai kendil (lilin) kemerlap. Ini ditrasformasikan Chairil dalam
”Doa”, sifat Tuhan sebagai kerdip lilin
di kelam sunyi.
Si aku dalam sajak Amir Hamzah
ragu-ragu karena tak dapat menangkap wujud Engkau: Aku manusia / Rindu rasa /
Rindu rupa // Di mana Engkau / Rupa tiada / Suara sayup / Hanya kata merangkai
hati //. Bahkan si aku merasa diperhatikan: Engkau cemburu / Engkau ganas /
Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap dengan lemas //. Hal ini ditransformasikan Chairil: Tuhanku /
Dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu // Biar susah sungguh mengingat Kau
penuh seluruh //. Penderitaan si aku dalam sajak Amir Hamzah (bait ke-3, 4, 5)
ditransformasikan Chairil Anwar: Tuhanku / Aku hilang bentuk / remuk / ... /
aku mengembara di negeri asing.
Meskipun demikian, si aku Amir
Hamzah kembali juga kepada Engkau, kekasihnya: Nanar aku, gila sasar / Sayang
berulang padamu juga / Engkau pelik menarik ingin / Serupa dara di balik tirai
// Kasihmu sunyi / Menunggu seorang diri /. Ini ditrasformasikan Chairil dalam
”Doa”: Tuhanku / aku mengembara di negeri asing // Tuhanku / di pintu-Mu aku
mengetuk / aku tidak bisa berpaling.
Meskipun ada persamaan ide antara
kedua sajak tersebut, namun pelaksanaannya, yaitu mengekspresikannya, berbeda,
menyebabkan hasilnya pun berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan tanggapan
terhadap Tuhan (wujud Tuhan).
Amir Hamzah menanggapi wujud Tuhan
sebagai kekasih, Tuhan dianthropomorfkan,
diwujudkan sebagai manusia: kekasih, gadis. Dengan demikian, kiasan-kiasannya
bersifat personifikasi dan romantis: Pulang kembali aku padamu / Seperti dahulu
/ .../ Kaulah kandil kemerlap / ... / Melambai pulang perlahan / Sabar, setia
selalu // ... / Engkau pelik menarik ingin / Serupa dara di balik tirai //
Kasihmu sunyi / Menunggu seorang diri.
Amir Hamzah ingin menangkap wujud
Tuhan seperti hal yang berbentuk wadag: Satu kekasihku / Aku manusia / Rindu
rasa / Rindu rupa//. Yang diinginkan Amir Hamzah pertemuan dengan Tuhan seperti
halnya Nabi Musa: Hanya satu kutunggu hasrat / serupa Musa di puncak Tursina
(”Hanya Satu”). Tuhan digambarkan sebagai gadis yang pencemburu dan ganas (di
sini juga digambarkan sebagai
binatang bas): Engkau cemburu / Engkau
ganas / Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap dengan lepas.
Hal tersebur lain dari yang
digambarkan wujud Tuhan menurut konsep Chairl Anwar. Antara aku dan engkau itu ada jarak. Kekuasaan Tuhan itu mutlak, ada
hamba dan Tuhan. Maka Chairil Anwar tak memberinya bentuk manusia, melaikan
hanya kekuasaan-Nya yang terasa. Tuhan memancarkan cahaya yang panas, meskipun
juga untuk menerangi hati manusia: caya-Mu panas suci / tinggal kerdip lilin di
kelam sunyi //. Manusia tak dapat berbuat laian kecualai hanya bersrah diri dan
mengadukan nasibnya sebab hanya Dia tumpuan keluh dan tangis manusia: Tuhanku /
aku hilang bentuk / remuk // Tuhanku / aku mengembara di negeri asing.
Dalam gaya ekspresi, Chairil Anwar
mempergunakan haya semacam imagisme, yaitu
gaya yang mengemukakan pengertian dengan citra-cita, gambaran-gambaran, atau
imaji-imaji: Tuhanku / aku hilang bentuk / remuk /... / aku mengembara di
negeri asing //. Maka, kata-kata yang kalimatnya ambigu. Amir Hamzah
mempergunakan citra-citra juga, tetapi tidak untuk mengemukakan pengertian,
melainkan untuk mengkonkretkan tanggapan. Kaulah Kandil kemerlap / Pelita
jendela di malam gelap / Melambai pulang perlahan / Sabar, setia selalu / ... /
Engkau cemburu / Engkau ganas / Mangsa aku dalam cakarmu / Bertukar tangkap
dengan lepas.// Di sini
kata-kata dan kalimatnya tidak ambigu, bahkan mendekati kepolosan.
Hubungan Intertektual sajak orang
kepanasan dengan sajak suara
SAJAK ORANG KEPANASAN
(W.S. Rendra)
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu
Karena kami telantar dijalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang : TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
Suara Merdeka,
Tokoh kami dalam puisi
Sajak Orang Kepanasan adalah seseorang yang tertindas dan miskin yang hanya
makan akar. Makan akar disini dimaksudkan dengan hanya makan umbi-umbian
seperti singkong, ubi jalar dan umbi-umbian yang lain. Hidup berhimpitan,
kucel, sumpek, terlantar dijalan, kebanjiran, dibungkam, diancam, tidak boleh
memilih, hanya bersandal, harus sopan dan hanyalah arus kali.
Dalam puisi Sajak Orang
Kepanasan dijelaskan bahwa tokoh kamu merupakan tokoh yang memiliki
kekuasaan dan kaya. Ia menumpuk terigu digudang, ruangnya berlebihan,
gemerlapan, mengunci pintu, memiliki semua keteduhan, bisa berpesta dikapal
pesiar, bisa dengan mudah nyerocos bicara, memaksakan kekuasaan, bebas
berencana dan bebas memakai senapan, mempunyai penjara dan tokoh kamu
bagaikan batu tanpa hati.
Puisi Sajak Orang Kepanasan ini
didalamnya mengandung ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial antar tokoh kami
dan tokah kamu adalah bahwa tokoh kami adalah tokoh yang
miskin sedangkan tokoh kamu adalah seorang tokoh yang kaya raya, tokoh
kamu memiliki kekuasaan sedangkan tokoh kami tertindas akan
kekuasaan yang dimiliki oleh tokoh kamu. Dapat pula diartikan bahwa
tokoh kamu adalah seorang penjajah yang kejam dan tokoh kami
adalah rakyat Indonesia yang mengalami kesengsaraan akibat penjajahan yang
dilakukan oleh tokoh kamu.
Dalam puisi Sajak Orang
Kepanasan ini, tokoh kami mengungkapkan penolakan atas ketertindasan
yang dialaminya. Coba perhatikan bait puisi berikut ini
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Disini terlihat bahwa tokoh kami
sungguh berani menolak apa yang dilakukan oleh tokoh kamu dengan tegas
berkata TIDAK kepadamu dan TIDAK dan TIDAK kepadamu. Dan sebelum adanya
penolakan tersebut W.S Rendra dengan piawai membangun pukulan demi pukulan
untuk menguatkan benturan atau kontradiksi antara tokoh kami dan tokoh
kamu.
SAJAK
SUARA
(Wiji Tukul)
sesungguhnya
suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamku
siapkan untukmu: pemberontakan!
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamku
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya
suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
Terdapat keterkaitan antara
puisi Sajak Orang Kepanasan karya W.S Rendra dengan realita kehidupan saat ini.
Dalam puisi ini dijelaskan adanya seseorang yang memiliki kekuasaan dan dengan
semena-mena melakukan penindasan kepada orang yang miskin dan tak berdaya,
rakyat tidak diberi kesempatan untuk menyerukan pendapat dan kehendak
masing-masing. Kebebasan rakyat direnggut. Sama halnya dengan puisi sajak suara
Widji Tukul kehidupan saat ini, banyak terdapat penguasa-penguasa yang memegang
kuasa dalam negara tetapi ia malah menyalahgunakan kekuasaan atau jabatannya
dengan tidak benar, menindas dan menyengsarakan rakyat miskin, kebebasan rakyat
terenggut, rakyat tidak memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya, problema
kehidupan yang tidak selayaknya dirasakan oleh rakyat miskin.
Pendekatan
Intertekstual adalah adalah teknik penelitian sastra yang dilakukan dengan cara
membandingkan, mensejajarkan dan mengongranskan antar karya. Intertekstual juga
dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa lampau dengan teks
masa kini. Intertekstual dalam puisi
dapat mencakup persamaan maupun pertentangannya. Untuk mendalami hubungan antar
teks, penting dibicarkan karya sastra tersebut dalam kaitannya dengan karya
sezaman, sebelum, dan sesudahnya. Hal ini untuk mengetahui bagaimana hubungan
atau kaitan antar teks yang mungkin terjadi.
Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penyusun
tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan,
pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di
pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami
masih dalam tahap pembelajaran.
Amir Hamzah. 1959a. Buah Rindu.
Jakarta: Pustaka Rakyat.
Chairil Anwar. 1959. Deru Campur
Debu. Jakarta: Pembangunan.
Rachmat Djoko
Pradopo. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rachmat Djoko
Pradopo. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar